Rabu, 03 Juni 2015

Arca Arca di Museum Nasional

Museum Nasional terletak di Jalan Merdeka Barat No 12, tepat di seberang Monas (Monumen Nasional) Museum ini adalah museum utama negara Indonesia dan merupakan museum pertama dan terbesar di Asia Tenggara. Di Museum ini, menyimpan koleksi sejarah peradaban negeri ini. Museum ini berawal dari sebuah perkumpulan yang di dirikan oleh Pemerintah Hindia Belanda pada tanggal 24 April 1778. Salah seorang pendiri lembaga ini JCM Radermacher menyumbangkan sebuah rumah miliknya di jalan Kalibesar seatu kawasan perdagangan di Jakarta Kota. Sumbangan Radermacher yang berupa rumah serta koleksi buku dan benda-benda budaya inilah yang menjadi cikal bakal berdirinya museum dan perpustakaan. Sampai akhirnya rumah di Kalibesar tidak dapat menampung Koleksi.


Selama masa pemerintahan Inggris di Jawa (1811-1816), Letnan Gubernur Sir Thomas Stamford Raffles yang menjadi Direktur perkumpulan ini memerintahkan pembangunan Gedung baru untuk digunakan sebagi museum dan untuk ruang pertemuan di Jalan Majapahit Nomer 3. Sekarang di tempat ini berdiri kompleks gedung sekretariat Negara, di dekat Istana kepresidenan. Akhirnya pada Tahun 1862 pemerintah Hindia-Belanda memutuskan untuk membangun sebuah gedung museum baru di lokasi yang sekarang, yaitu Jalan Medan Merdeka Barat No. 12. Museum ini sangat di kenal bagi masyarakat Indonesia khususnya penduduk Jakarta mereka menyebutnya museum gajah karena di bagian depan museum terdapat patung gajah berbahan perunggu yang merupakan hadiah dari Raja Chulalongkorn dari Thailand yang pernah berkunjung ke Museum pada tahun 1871.
Hingga saat ini koleksi yang dikelola berjumlah 140.000 benda, terdiri atas 7 jenis koleksi

Museum Nasional memiliki banyak Koleksi Arca dari seluruh penjuru Nusantara, Koleksi arca ini termasuk dalam kategori peninggalan Etnografi. Koleksi Arkeologi di Museum Nasional terdiri dari arca dewa-dewa Hindu, arca Buddha, arca perwujudan, arca binatang, perhiasan, peralatan upacara, bagian bangunan, mata uang, prasasti, dan lain-lain. Koleksi-koleksi tersebut terbuat dari emas, perak, perunggu, batu, dan tanah liat yang dibakar. Koleksi Arkeologi sebagian besar berasal dari daerah Jawa Tengah dan Jawa Timur, misalnya temuan emas yang sangat bernilai dari desa Wonoboyo, Jawa Tengah; arca batu Praj├▒aparamita dari Singosari, Jawa Timur. Selain itu juga memiliki koleksi-koleksi penting lainnya, seperti prasasti tertua di Indonesia, yaitu prasasti Yupa dari Muara Kaman, Kutai Kalimantan Timur; prasasti-prasasti dari kerajaan Tarumanegara; dan prasasti-prasasti yang berasal dari masa kerajaan Sriwijaya. Arca Bhairawa Buddha dari Padang Roco, Sumatera Barat juga merupakan koleksi Arkeologi yang cukup menarik perhatian dilihat dari ukurannya yang sangat besar

Untuk Koleksi arca sendiri di Museum Nasional terletak di gedung B atau gedung arca. Di Gedung Arca koleksi arca arca tesebar di taman arca dan juga bagian selasar gedung. Pada bagian Taman Arca terdapat taman berumput hijau ini juga dipenuhi dengan arca-arca berbagai bentuk dan ukuran, serta lumpang-lumpang kuno (yoni) yang terbuat dari batu andesit. Salah satu yang mencolok di taman arca yakni arca Nandiswara yang berbentuk lembu (sapi). Walaupun banyak sekali peninggalan berupa arca yang ada di museum nasional Berdasarkan Pembagian Jenisnya secara umum Arca arca koleksi museum nasional dibagi menjadi dua yaitu arca ganesha dan durga. 

Museum Nasional memiliki cukup banyak koleksi arca batu bermuka gajah atau ganesha. Arca-arca tersebut tersebar di sejumlah tempat. Sebagian besar berada dalam sikap duduk (kurmasana). Hanya dua buah yang bersikap berdiri (stanakha). Arca bermuka gajah itu disebut Ganesha.

Di antara sejumlah arca Ganesha, yang dianggap koleksi adikarya adalah arca yang berasal dari Candi Banon, Jawa Tengah. Arca itu berasal dari abad ke-8, dengan tinggi sekitar 150 sentimeter.
Arca Ganesha tersebut terbuat dari batu tunggal. Hasil pahatannya sangat halus dan detail sekali, sehingga mengundang kekaguman para pakar sejarah kesenian dan masyarakat awam. Bahkan mereka sering membelai atau mengelus belalai Ganesha. Tak lain maksudnya supaya pintar karena Ganesha dikenal sebagai dewa ilmu pengetahuan. Ganesha adalah anak Dewa Siwa. Dalam agama Hindu, Ganesha dianggap setengah manusia dan setengah dewa.

Penggambaran Ganesha selalu berbeda dalam bentuk, gaya seni, dan langgam. Namun ciri utama Ganesha tetap sama, yakni memiliki belalai yang sedang mengisap isi mangkok dalam genggaman tangan depannya.
Menurut mitologi, mangkok tersebut berisi cairan ilmu pengetahuan yang tidak habis-habisnya walaupun diisap terus-menerus olehnya. Hal inilah yang kemudian diidentikkan dengan ilmu pengetahuan, yang tak pernah habis digali dan tak pernah henti digarap.

Ganesha juga dipuja sebagai dewa penyingkir segala rintangan, baik gangguan gaib (magis) maupun gangguan fisik. Ini karena Ganesha memiliki wahana atau kendaraan tunggangan berupa tikus (musaka). Musaka merupakan simbol dari keangkuhan diri. Jadi diharapkan musaka itu akan berperan sebagai pengendali dari keangkuhan seseorang.
Bahkan tikus dapat melewati segala rintangan di lokasi mana pun, seperti di dalam rumah, sawah, dan selokan. Begitu yang diharapkan dari Ganesha, karena gajah mampu mendobrak segala pepohonan di hutan dengan tubuhnya yang gagah dan kuat. Pepohonan diibaratkan berbagai masalah besar.

Selain arca ganesya arca yang paling banyak di Musem Nasional adalah koleksi Arca durga. Arca durga merupakan peninggalan dari Masa Kerajaan Hindu. Arca durga digambarkan berdiri di atas kerbau. Bermahkota. Payudara menonjol (natural). Ciri lain yaitu  Arca Dewi Durga memiliki banyak tangan, lebih dari 8, 12 atau pada beberapa arca sampai dengan 16. . Arca Durga biasanya diletakkan di relung sebelah utara candi Hindu. 

Dalam mitologinya Dewi Durga pembunuh mahisa (kerbau) yang penjelmaan asura (raksasa musuh para dewa yang sering menyerang khayangan). Dewi Durga ditugaskan untuk menghalau asura. Asura bisa menjelma jadi berbagai macam bentuk, misalnya gajah, singa, kerbau. Sebelum muncul wujud aslinya, diwujudkan dengan mahisa (kerbau). Setelah mahisa dibunuh ditombak dengan trisula, muncul wujud aslinya (asura). Menjelma keluarnya dari ubun-ubun (kepala).

Sebagai dewi yang digambarkan sedang berperang, Durga membawa senjata. Tangan atasnya membawa cakra dan yang dibekali oleh dewa wisnu. Dia juga bawa pedang yang panjang dan busur panah dengan mata panahnya. Tangan sebelah kanan depan menarik ekor dari kerbau (mahisa yang sudah mati). Tangan kiri menjambak rambut asura. Tangan lainnya bawa pitaka (perisai) dan Cangka, dibuat dari cangkang kerang pemberian Dewa Wisnu. Durga digambarkan dalam adegan kemenangan setelah berhasil mengalahkan asura yang berubah bentuk seperti kerbau yang sangat besar.